Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengatakan, masyarakat Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga harus menjadi pengguna AI yang cerdas
dan mampu menjadi pengembang AI yang cerdas dan wirausahawan AI yang cerdas. “Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga harus menjadi pengguna AI yang cerdas, dan mampu menjadi pengembang AI yang cerdas dan wirausahawan AI yang cerdas,” tegasnya dalam rapat terbatas tingkat menteri di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi AI saat ini berjalan sangat cepat dan memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan.
Ia menambahkan, AI tidak hanya berkembang dari bulan ke bulan, tetapi bahkan dari minggu ke minggu.
AI membuat pekerjaan manusia menjadi lebih produktif dan akurat, termasuk pekerjaan di bidang penelitian dan analisis.
Namun, ia menekankan pentingnya bersikap bijak dan kritis terhadap penggunaan AI.
Berita terkait: Pemerintah RI berdayakan generasi muda dengan pelatihan coding visual
Menurutnya, AI tidak sepenuhnya netral dan perlu dikelola untuk memaksimalkan manfaatnya dan meminimalkan dampak negatifnya.
Pengembangan AI, katanya, harus melibatkan seluruh elemen masyarakat dengan meningkatkan literasi digital sejak dini.
Untuk itu, ia menginformasikan bahwa pemerintah telah menyiapkan kurikulum untuk jenjang pendidikan dasar hingga menengah yang menitikberatkan pada penguatan logika, numerasi, dan berpikir kritis peserta didik.
“Hal ini untuk menciptakan fondasi yang kuat agar generasi muda dapat menjadi pengguna AI yang bijak dan pengembang AI masa depan,” jelasnya.
Pratikno juga menyoroti pentingnya dukungan dari lembaga pendidikan tinggi dan lembaga penelitian, serta dunia usaha, untuk mencetak talenta-talenta unggul di bidang AI.
Ia mengatakan, ia meyakini bahwa Indonesia harus mengupayakan kedaulatan AI untuk memastikan pengelolaan data nasional tetap aman dan relevan dengan konteks lokal.